Coba ceritakan fantasi percintaan paling
romantis yang pernah kalian bayangkan. Apakah sebuah acara makan malam dengan
nuansa remang-remang dan cincin berlian? Sebuket mawar merah dan coklat sebagai
kejutan di hari ulang tahun? Lantunan lagu cinta di bawah balkon pada malam
purnama? Atau ditabrak cowok sangat keren dengan mobil super mahal, hingga
kalian jatuh cinta, meskipun dia ternyata anak direktur perusahaan besar dan
kalian hanya manusia biasa? (Untuk yang punya fantasi terakhir, harap segera
mengganti channel TV Anda dan hubungi psikolog terdekat).
Buatku, skenario percintaan yang paling
menyentuh adalah seperti ini:
Aku
sedang duduk membaca buku dengan khusyuk di sebuah kedai kopi. Di luar, cuaca
mendung dengan titik-titik gerimis. Persis di seberang tempat dudukku, seorang
laki-laki rupawan (perpaduan antara wajah manis Joseph Gordon Levit, mata tajam
Nicholas Saputra, dan tubuh atletis Chris Pine), sibuk dengan iPadnya.
Tiba-tiba segerombolan cewek berisik dengan aksesoris batik, BB, dan flat shoes
masuk, lalu duduk di baris berbeda di antara kami. Dengan berisiknya mereka
berbicara tentang budaya Indonesia yang telah bergeser menjadi kebarat-baratan
,dengan bahasa Indonesia yang dicampur bahasa Inggris coret.
" Ya
gitu. Susah deh, kalo society-nya sudah nggak respect sama adat dan istiadat
bangsanya sendiri. Anak bunuh orang tuanya sendiri, remaja udah banyak yang
nggak perawan, orang-orang pada buang sampah sembarangan, duhhh.. mana Jakarta
makin macet aja. It's so suck!" ucap salah seorang diantaranya.
" Ih
bener banget. Lu tau ga sih, kemarin aja mobil gue baru dibaretin sama pengamen
gara-gara dianya nggak suka gue kasih receh. I mean, come on! Mau jadi apa
bangsa ini?" tanggap yang lain.
"
Kita memang harus mulai menekuni budaya sendiri. Gue belakangan ini lagi baca
buku Pramoedya Ananta Toer. Pada tau kan? Itu lo... penulis Ayat-Ayat
Cinta," ucap yang lainnya dengan persuasif.
Aku yang
tidak tahan dengan efek salah gaul tersebut akhirnya tertawa. Tapi ternyata aku
tidak tertawa sendiri. Di seberang sana "si laki-laki rupawan" juga
merasa cewek-cewek tersebut semacam tersesat.
Aku
melihatnya dengan tatapan, " lihat?".
Dia
tersenyum sambil menyilangkan telunjuk di dahinya, yang berarti, "
sakit!"
Kami
kembali tertawa dengan geli. Gerombolan cewek menatap kami dengan sinis, saling
berbisik, menyatakan ketidaksukaannya pada kami berdua. Aku dan si laki-laki
rupawan.
Si
laki-laki rupawan lalu menunjuk bangku kosong di depanku, seolah berkata,
" boleh gabung duduk di situ?".
Aku
menjulurkan telapak tangan yang terbuka, yang berarti, " silahkan".
Dia lalu
pindah sambil membawa sisa kopinya, lalu meletakannya di sisi gelasku. "
Aku baru tahu kalau Pramoedya menulis drama percintaan aliran kanan".
"
Well, dia pasti nangis kalau bisa dengar".
"
Ngaco ya.."
"
Banget".
Dan begitulah pertemuan kami. Aku dan laki-laki rupawan. Kami berbicara panjang lebar mengenai, buku, film, musik, hidup, dan cinta. Jam demi jam pun berlalu. Sementara kami merasa semakin dekat satu sama lain. Lampu kedai meredup. Dia lalu mengantarku pulang seperti laki-laki jantan dalam film Hollywood. Kami bertukar kontak, dan seketika kehilangan alasan untuk tidak bertemu kembali. Kami mengulang pertemuan, lagi dan lagi. Lalu tumbuhlah rindu di hati masing-masing. Kami kemudian saling jujur dan memberanikan diri untuk mengikatkan hati kami berdua ke dalam sebuah komitmen yang teguh.
.....
.....
Iya sudah selesai. Kata orang tua, tidak baik
berkhayal terlalu tinggi.
.....
.....
Ya. Begitu.
*
Kenyataannya, selama puluhan tahun aku hidup di
planet bumi, sudah banyak catatan mengenai jenis pria yang aku harapkan menjadi
pacarku. Here is the list..
Saat
semua anak perempuan mengidolakan tokoh Pedro dalam serial Amigos, aku justru
menobatkan diri sebagai fans berat Jet Lee. Hampir semua film Jet Lee aku
tonton berkali-kali. Tai Chi Master, Wong Fei Hung, The One, dan lainnya, semua
kunikmati dengan hati berbunga. Bagiku, saat itu, sebaik-baiknya laki-laki
adalah yang menguasai kungfu. Jadi, jika ada anak tengil yang menggodaku dalam
perjalanan pulang dari sekolah, pacarku-si ahli kungfu- akan segera membasmi
mereka hingga tetes darah terakhir dan aku bisa menikmati perjalanan pulang
dengan aman dan tenang.
Lepas
dari Jet Lee aku mulai memasuki fase "siapapun dia yang jago main alat
musik adalah keren". Jika teman-teman sekolahku begitu realistis dengan
memuja para atlit sekolah bau ketek, aku jauh lebih senang berimajinasi sambil
mendengar suara The Beatles, Kahitna, Koes Plus, Nat King Cole, Dewa 19, dan
Potret. Aku bisa berulang kali memutar koleksi kasetku hingga pitanya kusut
dan memencet tombol Walkman ku
hingga copot. Aku selalu membayangkan betapa manisnya melihat kekasihku berdiri
di atas panggung lalu bernyayi di bawah sorot lampu terang. Atau...melihatnya
duduk di balkon sambil bermain gitar di bawah siraman matahari sore. Menikmati
dirinya yang memetik nada-nada penyusun melodi yang menggambarkan rasa
sayangnya untukku (#hatsahh). Ya, itu pasti keren.
Seiring
berjalannya waktu, aku mulai pesimis mendapatkan musisi kece di Indonesia.
Entah mengapa, sejak MTV tidak lagi populer, muncul wajah-wajah tertutup rambut
berminyak dengan genre yang tidak bisa berteman dengan indera pendengaranku.
Banyak lagu yang dibuat secara kompak untuk mengiringi orang bunuh diri.
Sungguh depresif.
Maka dari
itu, aku pun mengubah haluan. Sebuah kesadaran bahwa dunia terlalu kejam untuk
membuatmu bertahan dengan orang yang cengeng, muncul dengan cantik dalam
pikiranku. Lalu, dari sebuah masa yang terlewati, munculah idola baru.
Bayangkan, dialah anak laki-laki yang membuat ketar-ketir penjahat terkejam
sejagad. Luka di dahinya adalah saksi bahwa hidupnya tidak mudah. Bukan, luka
itu bukan hasil jatuh dari pohon mangga atau kejedot pintu angkot. Luka itu
muncul akibat sihir yang mematikan. Idola baruku, si anak yatim piatu, bernama
Harry Potter.
Kira-kira ini yang terjadi jika aku dan Harry jadian saat itu:
"
Besok ke sekolah bareng aku aja ya. Naik sapu terbang"
"
Sayang, Gryffindor menang main Quidditch sama Slytherin. Ini, aku tangkap
snitch-nya buat kamu".
"
'Lumos maxima'. Sekarang udah nggak gelap kan? Yok beli nasi goreng".
"
Bapak kamu diktator ya?". " Kok nuduh begitu?". " Soalnya
kamu sudah meng-imperio- kan hatiku untuk tetap sayang kamu".
...
Mual? Sama. Apalagi setelah J.K. Rowling tidak mengeksekusi akhir ceritanya dengan baik. Belum lagi pemeran utamanya yang semakin tidak ganteng seiring bertambahnya usia (and he's "katek" actually, so..). Aku yang kecewa, akhirnya berhenti memuja Harry dan beralih ke laki-laki ideal lainnya.
Menyerah
untuk menemukan pacar melalui "sosok", aku akhirnya mengambil
keputusan untuk menyortir laki-laki ideal berdasarkan profesi. Begini
ceritanya..
Pada suatu siang yang panas, komputerku tiba-tiba berulah. Itu adalah yang kedua kalinya dalam sebulan. Sungguh mengganggu. Semua tugasku menjadi terhambat, termasuk mengopi VCD sewaan. Aku pun mulai berandai-andai, seandainya aku punya pacar ahli IT, hidup jadi akan lebih mudah. Komputer error, minta diperbaiki pacar. Mau install aplikasi baru, minta tolong pacar. Mau upgrade OS, minta saran pacar. Ada PR TIK, minta dikerjai pacar (ya kali).
Aku pun menyebarkan radar. Mencari dengan teliti laki-laki yang potensial untuk dijadikan pacar. Yakin bahwa tidak ada yang bisa diharapkan di SMA, aku mencoba mencari di kampusku. Gagal mencari di kampus sendiri, aku perluas lokasi pencarian ke kampus tetangga hingga perpustakaan pusat. Hasilnya? Sudah pasti... senyap. Pencarianku hanya berujung dengan penemuan tiga kelompok laki-laki, mahasiswa fakir karena tidak pintar dengan bidang studi maupun organisasi, mahasiswa populer dengan tulisan "occupied" di dahinya, atau mahasiswa jenius yang lebih cinta dengan buku dan komputer dibandingkan manusia.
Saat itu aku tahu. Aku harus cari jenis lain lagi.
Mens sana
in corporisano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
Kalimat di atas adalah satu dari puluhan pernyataan yang menegaskan bahwa kesehatan fisik dan mental bukanlah dua hal yang dapat dipisahkan. Jika kalian ingin dinyatakan sehat, maka harus dipastikan bahwa kalian tidak pernah mendapatkan catatan buruk dari dokter dan psikolog. Kenyataan tersebut lalu membuatku dan beberapa teman yang bernasib sama dengan semena-mena bersilogisme.
Pada dasarnya semua orang berharap dapat menikmati sebuah hubungan intim yang sehat. Kami, mahasiswa psikologi, adalah satu dari semua orang. Agar kami mendapatkan hubungan yang sehat, maka kami harus mengikuti prinsip dasar dari kesehatan, yaitu :
Sehat =
Fisik + Mental
Jika kesehatan mental dapat ditangani oleh Psikolog. Maka,
Sehat =
Fisik + Psikolog
Kesehatan fisik hanya dapat ditangani secara ilmiah dan profesional oleh Dokter, maka:
Sehat =
Dokter + Psikolog
Sudah jelas, tidak ada orang lain yang lebih ideal untuk bersanding dengan kami, calon psikolog, selain calon dokter.
" Ya udah. Kita gebet aja anak FK," kata seorang temanku dengan semangat.
"
Persis. Mulai besok, kita makan siang di kampus mereka aja," ajakku.
"
Sip!"
"
Sip!"
....
" Tapi kan kampus mereka di salemba ya," ucapku.
"
Dan kita di depok," tambah temanku.
"
Jadi selesai aja nih kita?"
"
Tenang Fik. Kan bisa naik kereta."
" Oh
iya! Kita nongkrongnya kalau ada jam kosong aja!"
"
Nah!"
....
" Tunggu, memangnya kita ada jadwal kosong?"
"
Kamis kan cuma satu mata kuliah."
"
Itu mah waktu gue buat kerja kelompok. Lu?"
"
Gue juga sih."
"
Jadi sebenarnya, kita benar-benar nggak ada waktu kosong."
"
Iya. Nggak ada."
....
" Jadi lupain?"
"
Lupain."
....
Dan kami pun melupakan semuanya. Hingga kini, hubungan terintim kami adalah dengan guling masing-masing.
*
Semakin
dewasa, aku mulai sadar bahwa mencari pasangan ideal bukan hanya masalah
popularitas, kemampuan spesifik, atau profesi seseorang. Lebih dari itu, aku
sebenarnya hanya perlu mengenali kebutuhanku.
Seorang dosen pernah bercerita tentang pasangan unik yang pernah ditemuinya. Sang suami adalah seorang wartawan senior yang sangat pintar, sementara istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang bahkan tidak memiliki gelar pendidikan tinggi. Saat ditanya, bagaimana rumah tangga mereka bisa bertahan dalam kerukunan dalam waktu yang lama, sang suami pun menjawab, “ Saya bisa bertahan, justru karena istri saya memiliki kemampuan spesial yang jarang saya temui pada orang lain. Dia adalah pendengar terbaik yang pernah saya kenal. Setiap saya pulang, selalu ada sejuta cerita yang perlu saya tumpahkan tanpa ada interupsi dan penilaian. Dan dia, istri saya, selalu mendengarkan setiap detilnya dengan sabar”.
Mungkin itulah yang dimaksud Jerry Maguire dengan kalimat “You complete me”. Seorang wartawan yang senang bicara hanya butuh pendengar setia untuk menjadi bahagia, dan sang istri adalah potongan puzzle yang tepat untuk bersanding dengannya. Well, Tuhan memegang janji, dia memberi apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan manusia.
Kebutuhan versiku sendiri sudah teruraikan dalam prolog di atas. E…fokusnya jangan pada bagian “laki-laki rupawan” ya..(walaupun kalau ada stoknya nggak bakal nolak sih) , tapi langsung pada bagian dimana aku dapat berbagi dan berdiskusi mengenai minatku terhadap banyak hal. Apakah pada akhirnya kebutuhan itu bisa aku dapatkan pada satu dari lima kelompok laki-laki ideal yang pernah kususun atau tidak, hanya Tuhan dan diriku di masa depan yang tahu.
Kalian
sendiri bagaimana? Sudah tahu apa yang dibutuhkan? Atau justru sudah
mendapatkan apa yang dibutuhkan?
*sign out*
*sign out*






