Maka sampailah kita pada tahun 2014. Dengan selamat (sentosa?), dan merdeka serta berdaulat. Meskipun nampaknya belum mencapai keadilan dan (beberapa) hanya bersatu dengan guling masing-masing, namun kita perlu bersyukur atas segala hal baik yang terjadi di tahun 2013. Misalnya, tidak peduli bagaimana merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, pengamen dan pengemis ibu kota masih mampu menggunakan smartphone. Atau bagaimana efek pubertas terhadap otak bisa begitu signifikan sehingga membuat Justin Bieber merasa sudah cukup tua untuk pensiun.
Well, here I am. Di tengah kesunyian setelah hingar bingar pesta pergantian tahun, akan membagi beberapa peristiwa yang mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
Maaf ketiduran. *brb cuci muka*
Oke mari mulai lagi!
Sepanjang 2013, banyak fenomena yang entah mengapa, di mataku, intensitasnya mulai meningkat. Entah karena aku yang telah berpindah lokasi sehingga dapat melihat kenyataan lebih baik, atau karena memang keberadaan hal tersebut semakin jelas dan menguat seperti nyamuk di kamar yang tidak pergi meskipun sudah disemprot dengan baygon berkali-kali. Dan ini dia:
1. Perubahan Adab Makan dan Minum
Dulu kita diajarkan untuk selalu membaca doa sebelum makan. Hal ini dimaksudkan sebagai ucapan syukur bahwa pada saat itu kita memiliki rejeki yang cukup, sehingga dapat menyantap makanan yang baik. Bagi yang tidak meyakini ritual doa, biasanya akan repot memperhatikan higenitas sajian dan peralatan makan di sekitarnya. Mencuci tangan, melap sendok dan garpu, melap meja, mengantarkan pesanan dan tagihan, ... oh maaf itu waiter. Intinya orang-orang ini akan memastikan bahwa gizi dan lemak yang masuk ke dalam tubuh mereka tidak tercemar oleh kuman.
Tapi kini kedua aturan di atas telah berubah. Hal pertama yang masyarakat Indonesia modern lakukan sebelum makan atau minum bukan lagi doa atau bersih-bersih, melainkan foto. Ralat. Foto dan upload ke social media. Itu. Ini tidak hanya berlaku untuk menu dengan tampilan menarik seperti yang diperlihatkan smittenkitchen.com, tapi untuk semuanya. Beef steak saus BBQ, sate saus kacang, cream soup, sop ceker, salad, gado-gado, wine, tuak, lemon squash, hingga air kobokan. Bahkan saat mereka makan hati dan minum air mata pengkhianatan, mereka masih sempat melakukan ibadah foto-upload. Amazing.
2. TV vs Youtube
Aku bukan petapa yang baru turun dari gunung Salak. Sejak kuliah aku sudah sadar keberadaan YouTube dan menjadi penonton setia beberapa channelnya, seperti TheFineBros dan Smosh (thanks for my friend Wina who introduced me to this stuff). Tapi di tahun 2013, ketika program TV hanya berisi kompetisi seni ala militer, reality show yang tidak real, drama mustahil, mbak-mbak dada besar yang tak pernah akur, dan debat kusir anggota politik, aku tahu aku harus menyelamatkan diri. Sejak itulah aku mulai menelusuri channel YouTube Indonesia. Beberapa di antaranya tergolong bagus dan kreatif, misalnya, SkinnyIndonesian24, Aaron Ashab (tempo dulu), Sacha Stevenson, Stand Up Comedy Indonesia, dan Raditya Dika.
But people said, "tak ada gading yang tak retak". Banyak pemilik akun YouTube yang ternyata belum beranjak dari kesenangan mereka akan program TV. Lalu jadilah mereka meng-upload semua tayangan TV di You Tube. Sinetron anak tiri, cuplikan interview tokoh politik yang marah-marah, perkelahian artis-artis, dan lainnya. Semuanya, teman-teman, selalu ada dalam daftar most popular video di Indonesia. Tidak salah. Tapi buatku, jadi sedikit konyol dan mengkhawatirkan. Media yang sebenarnya bisa menjadi alternatif hiburan kreatif, malah dijadikan gudang untuk mencari rekaman tayangan TV yang tadinya akan dihindari.
Hingga kemudian, pada suatu hari, banyak dari kita yang saat berkumpul mempertanyakan bagaimana tayangan kualitas rendah bisa tetap populer. Jawabannya sederhana kawan. Tayangan itu, tanpa kita sadari, dengan berbagi cara dan media, selalu ter review dan review dan review.
2. Organisasi Agama Aliran "Kami Paling Benar"
Di tahun 2013, aku semakin sadar bahwa sebenarnya ada banyak warga negara Indonesia yang tidak suka menjadi Indonesia. Buat kalian yang pernah mendapatkan pelajaran Kewaranegaraan di sekolah pasti paham bahwa Indonesia adalah negara dengan beranekaragam agama dan keyakinan. Konsep Bhineka Tunggal Ika yang selalu didengungkan setiap saat, pada hakekatnya tidak berbicara mengenai suku dan ras melainkan merujuk pada penerimaan akan perbedaan agama. Oke... oke... begini.
Bhineka Tunggal Ika sebenarnya berasal dari kitab Sutasoma. Kitab ini membahas mengenai perbedaan keyakinan antara umat Hindu dan Budha yang menyembah Tuhan dengan nama dan cara berbeda. Ini kutipan lengkapnya:
"rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa".
Pusing? ini artinya:
"Konon agama Buddha, Hindu dan Siwa merupakan ajaran zat yang berbeda, namun nilai-nilai mengajarkan kebenaran jina (Buddha), Hindu dan Siwa adalah tunggal. terpecah belah, tapi satu jualah itu".
Kutipan di atas bermakna bahwa, kita yang percaya akan eksistensi Tuhan, tahu dan yakin bahwa Tuhan satu. Bagi yang percaya Tuhan lebih dari satu, percaya bahwa semua Tuhan menyarankan kebajikan dan kesejahteraan umat manusia. Berdasarkan hal tersebut, seorang Indonesia akan berpikir seperti ini saat dihadapkan oleh perbedaan keyakinan,
"what is the matter? Ibaratnya, siapapun yang mau pergi ke Zimbabwe bebas pergi dengan pesawat, mobil, kereta kuda, jalan kaki, atau naik getek. Mau perginya pakai acara transit di Cina atau Papua Nugini, terserah. Toh tujuannya tetap Zimbabwe. Saya orang Indonesia, tidak pernah terancam dengan perbedaan keyakinan di sekitar saya. Saya turut senang dan bahagia saat Ramadhan dan Idul Fitri tiba, turut tenang saat Nyepi datang, semangat ketik Imlek, dan ikut bernyanyi ketika Natal. Saya menghargai dan ikut mempelajari filosofi dari keyakinan lainnya yang tidak terumuskan oleh nama familiar. Saya bukan organisme yang berhak mengurusi haram halal setiap umat manusia. Saya tidak merusak fasilitas umum saat marah, karena banyak pembayar pajak yang berhak menikmatinya".
Jadi, apabila ada orang lain yang di KTPnya tertulis Indonesia namun mengecap kafir orang yang tidak mengikuti ritualnya, mungkin perlu dipaksa mengganti atau belajar Kewarganegaraan kembali.
Demikianlah hal-hal menarik yang tertangkap mata dan jatuh ke hati (lalu nyanyi). Apakah fenomena di atas akan menjadi-jadi di tahun baru ini, atau justru akan berkurang dan berganti dengan fenomena aneh lainnya? Mari kita lihat di tahun 2015.
Happy New Year Readers!!!
*fika is sign out*






